Aku tidak percaya semua ini! Beberapa menit yang lalu aku masih melihat megahnya mesjid Baiturrahman. Tapi sekarang semua sudah hancur, lebur. Ayahku hilang, adikku tewas. Ini semua gara-gara gempa dan gelombang tsunami yang barusan datang! Kejadian itu membuat hampir semua orang-orang yang aku sayangi meninggalkanku, termasuk sahabatku, umar.
***
Pagi itu seperti biasa aku bermain di pinggir pantai bersama Umar. Kami saling berkejar-kejaran, tersenyum riang, melepaskan semua beban yang ada. Umar memang sahabatku semenjak kelas empat SD. Dia selalu mendengarkan apa yang aku katakan. Dia selalu membagikan makanannya kepadaku apabila aku belum makan. Yah, kami berdua memang orang miskin.
Aku mulai kelelahan berlari, umar pun berhasil mengejarku. “Udah,Mar! udah! Aku udah gak bisa lari lagi!”. Umar pun berhenti mengejarku. Tampaknya dia juga sudah kelelahan. Aku mengajaknya tiduran di bawah pohon kelapa. Hawanya memang sejuk, makanya kami agak terkantuk-kantuk. “ Al, mudah-mudahan kebersamaan kita akan abadi, sampai ujung waktu.” katanya tiba-tiba. Aku agak terkejut dan mencoba memberi perhatian. “Ya” kataku agak canggung. Dia bertanya lagi. “Walaupun aku berada diseberang laut sana?”
“Ya” jawabku lagi.
Setelah bertanya, dia hanya memperlihatkan senyum anehnya, lalu dia mulai berbicara lagi.
“Apabila aku pergi jauh, pandanglah matahari senja yang tenggelam oleh laut yang bergelombang. Berjanjilah padaku, jangan pernah lupakan aku. Aku ingin tetap terikat dalam ikatan persahabatan yang erat ini.”
Aku penasaran, mengapa dia berbicara seperti itu.
“ Sebenarnya ada apa sih, Mar?”
“ Oh, nggak ada apa-apa, kok!” jawabnya dingin.
Teriakan adikku dari tepi jalan memotong pembicaraan kami.
“Kak, Mak suruh kakak pulang!”
Akupun berpamitan kepada umar. Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berlari mendekati adikku.
“Mar, nanti sore kita ketemuan disini lagi, ya! Jangan lupa, ya!” sorakku kepada umar.
Akupun melambaikan tangan kepadanya, tanpa mengetahui kalau itu adalah lambaian terakhir untuknya.
Sesampainya di depan rumah, aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum, Mak! Aal sudah pulang. Ada apa mak memanggil Aal?”
Mak menjawab, “tolong belikan minyak tanah ya. Mak mau masak makanan kesukaanmu, gulai nangka.”
Aku senang sekali. Aku segera lekas pergi mencari minyak tanah.
Tapi ketika aku berjalan ke pintu, aku melihat banyak orang yang berlarian.
Aku bertanya kepada seorang bapak-bapak yang lewat di depanku. “ Ada apa, pak?”
“Itu, nak.ada gelombang besar di pantai barat. Ayo cepat lari, nanti kamu ikut-ikutan hanyut!”
Lalu bapak-bapak itu pergi begitu saja. Dan tidak lama kemudian, aku sudah melihat aliran yang deras bagaikan air bah yang menghanyutkan segalanya.
Aku berlarian tak tentu arah bersama keluargaku. Ayahku menuntun kami semua naik ke atas atap yang tak terendam. Pertama-tama aku dan adik yang naik duluan setelah itu ibu dan ayahku. Namun ketika ayahku hendak naik, beliau tak sengaja terpeleset. Ayah melepaskan pegangannya, beliau pun terhanyut.
Namun, itu semua belum berakhir. Adikku yang berdiri di pinggir ikut terpeleset dan jatuh. Walau bagaimanapun juga, dia pun ikut hanyut. Adik berteriak minta tolong. Mak menangis dan memanggil-manggil nama adik. Aku memeluk Mak. Mak berusaha melepaskan pelukanku.
“Mak, sabar. Kalau Mak mengejar adik, nanti Mak ikutan hanyut. Kalau Mak hanyut, nanti siapa yang akan merawat Aal?” ucapku pada Mak.
Mak berhenti meronta-ronta. Mak jatuh tersimpu dan bersujud sambil menangis.
***
Air sudah berhenti mengalir. Mak mengajakku mencari adik dan ayah. Mak mencari diantara puing-puing bangunan yang sudah hancur. Mak menemukan adik sudah tewas ditimpa balok kayu besar, sedangkan ayah tidak ditemukan. Mak memeluk adik sambil menangis terisak-isak. Aku juga ikut menangis. Separuh dari keluargaku meninggal. Setelah ini, aku tidak tahu siapa yang akan mencari nafkah lagi, karena kami tidak tahu dimana ayah bersinggah.
Sementara Mak masih menangis, aku mencari Umar. Aku yakin pasti dia terhanyut sangat jauh, karena dia masih di pantai. Aku mencari Umar kesana kemari, tapi tidak ketemu. Aku sangat sedih, karena mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
Sekarang matahari senja telah menyinari pasir putih pantai. Aku hanya bisa menangis sambil menatap langit, seolah-olah wajah Umar yang tersenyum ada dimerahnya matahari. Aku tahu engkau selalu ada disana, Umar. Dan aku tahu, engkau akan selalu berada disampingku. Persahabatan kita tidak akan putus, sampai berakhirnya waktu.
cerpen ini penulis sadur dari arsip Tabloid AKSI MAN 2 Model Pekanbaru yang tidak diterbitkan.