Aku Bingung Menjawab Pertanyaan Papa

Aga bukanlah tipe orang yang deket ama papa. Tapi Aga juga bukan orang yang jauh dari papa. Hubungan kami biasa-biasa ajha, layaknya hubungan anak dengan papa-nya. Papa orangnya cukup kritis, terutama mengenai masalah hidup.

Papa adalah tipe orang yang disiplin, mungkin karena masa mudanya yang penuh dengan kerikil bahkan batu koral. karena itu, beliau sering meenkankan sikap disiplin kepada ku, agar aku jadi orang katanya. Papa Aga bukan termasuk ulama, kyai, maupun ustadz. Tetapi, untuk urusan agama, Alhamdulillah beliau cukup taat.

Setelah sekian lama Aga menjadi anak papa, hidup dengan perbincangan-perbincangan mengenai banyak hal, akhirnya muncul di dalam hati Aga perasaan yang bayak menentang pendapat-pendapat papa. bersambung……….

Andai Aku Presiden

aku ingin
para koruptor di hukum mati
konflik agama tak akan terjadi
semua jalur kereta api tertata rapi
flu setan pergi dari negeri yang telah di telanjangi ini
aku ingin….
aku ingin….

pergilah
kalian para pemboros harta rakyat
kalian para penjahat keadilan bersembunyi dibalik tumpukan rupiah
kalian para ektrimis berkedok agama
pergilah
kalian jauh jauh dengan kubangan itu dari negeri suci ini

turun turun…
turunkan harga bbm
stabilkan nilai rupiah
padamkan kebakaran hutan
turun turun..

aku muak dengan moneter
aku benci negeri kelam 97
aku ingin semua itu tak akan terjadi lagi
dengarkan…
aku tak berjanji seratus hari
karena janji hanya menyakiti rakyat
karena janji hanya harapan dibalik hipokritas
dengarkan……..
aku hanyalah presiden dalam dunia mimpi

dikirim oleh : ardhy
http://085271923862@multyplay.com | dhy_boyzone@yahoo.com |

Batu Palestina

Rentetan senjata mesin,

deruman tank baja

Goncangan rudal dan keberingasan

Tentara Setan Zionis

Tak menyurutkan hatimu,

Walau sejengkal kecil

Layangan cahaya keras

Kau berikan ke arah mereka

Kau lawan peluru dengan deru semangat

Jihad fie Sabilillah

Kau buat kepala mereka berkeringat

Dengan air mata deritamu

Batu, batu, batu

Itu yang menghiasi langit senja

Di kala kami melempar bola,

Batu yang kau lempar

Di kala kami larut dalam kesegaran air mandi

Kau berenang dalam genangan air mata bercampur keringat

Perjuangan

Batu itu yang membuat kau masih bertahan

Kau masih perkasa

Kau masih ada

Atas izin ALLAH


Dajjal Sudah Ada di Sebuah Pulau

Penulis: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc

.: :.

Asy-Sya’bi rahimahullahu mengatakan kepada Fathimah bintu Qais radhiyallahu ‘anha: “Beri aku sebuah hadits yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak kamu sandarkan kepada seorang pun selain beliau.” Fathimah mengatakan: “Jika engkau memang menghendakinya akan aku lakukan.” “Ya, berikan aku hadits itu,” jawab Asy-Sya’bi.

Fathimah pun berkisah: “…Aku mendengar seruan orang yang berseru, penyeru Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyeru ‘Ash-shalatu Jami’ah’. Aku pun keluar menuju masjid lantas shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan aku berada pada shaf wanita yang langsung berada di belakang shaf laki-laki. Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari shalatnya maka beliau duduk di mimbar dan tertawa seraya mengatakan: ‘Hendaknya setiap orang tetap di tempat shalatnya.’ Kemudian kembali berkata: ‘Apakah kalian tahu mengapa aku kumpulkan kalian?’ Para sahabat menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan: ‘Sesungguhnya –demi Allah-, aku tidak kumpulkan kalian untuk sesuatu yang menggembirakan atau menakutkan kalian. Namun aku kumpulkan kalian karena Tamim Ad-Dari. Dahulu ia seorang Nasrani lalu datang kemudian berbai’at dan masuk Islam serta mengabariku sebuah kisah, sesuai dengan apa yang aku ceritakan kepada kalian tentang Al-Masih Ad-Dajjal.

Ia memberitakan bahwa ia naik kapal bersama 30 orang dari Kabilah Lakhm dan Judzam. Lalu mereka dipermainkan oleh ombak hingga berada di tengah lautan selama satu bulan. Sampai mereka terdampar di sebuah pulau di tengah lautan tersebut saat tenggelamnya matahari. Mereka pun duduk (menaiki) perahu-perahu kecil. Setelah itu mereka memasuki pulau tersebut hingga menjumpai binatang yang berambut sangat lebat dan kaku. Mereka tidak tahu mana qubul dan mana dubur-nya, karena demikian lebat bulunya. Mereka pun berkata: ‘Apakah kamu ini?’ Ia (binatang yang bisa berbicara itu) menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Mereka mengatakan: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia (justru mengatakan): ‘Wahai kaum, pergilah kalian kepada laki-laki yang ada rumah ibadah itu. Sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian.’ Tamim mengatakan: ‘Ketika dia menyebutkan untuk kami orang laki-laki, kami khawatir kalau binatang itu ternyata setan.’ Tamim mengatakan: ‘Maka kami pun bergerak menuju kepadanya dengan cepat sehingga kami masuk ke tempat ibadah itu. Ternyata di dalamnya ada orang yang paling besar yang pernah kami lihat dan paling kuat ikatannya. Kedua tangannya terikat dengan lehernya, antara dua lututnya dan dua mata kakinya terikat dengan besi. Kami katakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Kalian telah mampu mengetahui tentang aku. Maka beritakan kepadaku siapa kalian ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami ini orang-orang dari Arab. Kami menaiki kapal ternyata kami bertepatan mendapati laut sedang bergelombang luar biasa, sehingga kami dipermainkan ombak selama satu bulan lamanya, sampai kami terdampar di pulaumu ini. Kami pun naik perahu kecil, lalu memasuki pulau ini dan bertemu dengan binatang yang sangat lebat dan kaku rambutnya. Tidak diketahui mana qubul-nya dan mana duburnya karena lebatnya rambut. Kamipun mengatakan: ‘Celaka kamu, apa kamu ini?’ Ia menjawab: ‘Aku adalah Al-Jassasah.’ Kamipun bertanya lagi: ‘Apa Al-Jassasah itu?’ Ia malah menjawab, pergilah ke rumah ibadah itu sesungguhnya ia sangat merindukan berita kalian. Maka kami pun segera menujumu dan kami takut dari binatang itu. Kami tidak merasa aman kalau ternyata ia adalah setan.’

Lalu orang itu mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang pohon-pohon korma di Baisan.’

Kami mengatakan: ‘Tentang apanya engkau meminta beritanya?’

‘Aku bertanya kepada kalian tentang pohon kormanya, apakah masih berbuah?’ katanya.

Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir ia tidak akan mengeluarkan buahnya. Kabarkan kepadaku tentang danau Thabariyyah.’

Kami jawab: ‘Tentang apa engkau meminta beritanya?’

‘Apakah masih ada airnya?’ jawabnya.

Mereka menjawab: ‘Danau itu banyak airnya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya hampir-hampir airnya akan hilang. Kabarkan kepadaku tentang mata air Zughar(1).’

Mereka mengatakan: ‘Tentang apanya kamu minta berita?’

‘Apakah di mata air itu masih ada airnya? Dan apakah penduduknya masih bertani dengan airnya?’ jawabnya.

Kami katakan: ‘Ya, mata air itu deras airnya dan penduduknya bertani dengannya.’ Ia mengatakan: ‘Kabarkan kepadaku tentang Nabi Ummiyyin, apa yang dia lakukan?’

Mereka menjawab: ‘Ia telah muncul dari Makkah dan tinggal di Yatsrib (Madinah).’

Ia mengatakan: ‘Apakah orang-orang Arab memeranginya?’

Kami menjawab: ‘Ya.’

Ia mengatakan lagi: ‘Apa yang dia lakukan terhadap orang-orang Arab?’ Maka kami beritakan bahwa ia telah menang atas orang-orang Arab di sekitarnya dan mereka taat kepadanya.

Ia mengatakan: ‘Itu sudah terjadi?’

Kami katakan: ‘Ya.’

Ia mengatakan: ‘Sesungguhnya baik bagi mereka untuk taat kepadanya. Dan aku akan beritakan kepada kalian tentang aku, sesungguhnya aku adalah Al-Masih. Dan hampir-hampir aku diberi ijin untuk keluar sehingga aku keluar lalu berjalan di bumi dan tidak ku tinggalkan satu negeri pun kecuali aku akan turun padanya dalam waktu 40 malam kecuali Makkah dan Thaibah, keduanya haram bagiku. Setiap kali aku akan masuk pada salah satunya, malaikat menghadangku dengan pedang terhunus di tangannya, menghalangiku darinya. Dan sesungguhnya pada setiap celahnya (dua kota itu) ada para malaikat yang menjaganya.’

Fathimah mengatakan: ‘Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dengan menusukkan tongkatnya di mimbar sambil mengatakan: ‘Inilah Thaibah, inilah Thaibah, inilah Thaibah (2), yakni Al-Madinah. Apakah aku telah beritahukan kepada kalian tentang hal itu?’

Orang-orang menjawab: ‘Ya.’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Sesungguhnya cerita Tamim menakjubkanku, di mana sesuai dengan apa yang kuceritakan kepada kalian tentangnya (Dajjal), serta tentang Makkah dan Madinah. Ketahuilah bahwa ia berada di lautan Syam atau lautan Yaman- tidak, bahkan dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur. Tidak, dia dari arah timur -dan beliau mengisyaratkan dengan tangannya ke arah timur-.’

Fathimah mengatakan: “Ini saya hafal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

(HR. Muslim, Kitabul Fitan wa Asyrathis Sa’ah, Bab Qishshatul Jassasah)

1 Nama sebuah daerah di Syam.

2 Dalam riwayat lain beliau mengatakan: “Dan itu adalah Dajjal.”

Ku Temukan Cintaku

Setelah sekian lama

Ku mencari

Penuh liku, derita, dan luka

Terjatuh dan tergelincir

Membuatku tak kuasa menahan

Tetesan air mata

Hanya ‘tuk menyapa-Mu

Mengenal-Mu dan memeluk-Mu

Hingga akhirnya

Kau mau menyapaku

tersenyum kepada ku

Kini ‘tlah ku temukan cintaku

Kau buatku

Tak dapat berkata-kata

‘tuk ungkapkan semua ini

Kau buatku

Bahagia

Mencintaimu!

Pagi Terakhir

Aku tidak percaya semua ini! Beberapa menit yang lalu aku masih melihat megahnya mesjid Baiturrahman. Tapi sekarang semua sudah hancur, lebur. Ayahku hilang, adikku tewas. Ini semua gara-gara gempa dan gelombang tsunami yang barusan datang! Kejadian itu membuat hampir semua orang-orang yang aku sayangi meninggalkanku, termasuk sahabatku, umar.

***

Pagi itu seperti biasa aku bermain di pinggir pantai bersama Umar. Kami saling berkejar-kejaran, tersenyum riang, melepaskan semua beban yang ada. Umar memang sahabatku semenjak kelas empat SD. Dia selalu mendengarkan apa yang aku katakan. Dia selalu membagikan makanannya kepadaku apabila aku belum makan. Yah, kami berdua memang orang miskin.

Aku mulai kelelahan berlari, umar pun berhasil mengejarku. “Udah,Mar! udah! Aku udah gak bisa lari lagi!”. Umar pun berhenti mengejarku. Tampaknya dia juga sudah kelelahan. Aku mengajaknya tiduran di bawah pohon kelapa. Hawanya memang sejuk, makanya kami agak terkantuk-kantuk. “ Al, mudah-mudahan kebersamaan kita akan abadi, sampai ujung waktu.” katanya tiba-tiba. Aku agak terkejut dan mencoba memberi perhatian. “Ya” kataku agak canggung. Dia bertanya lagi. “Walaupun aku berada diseberang laut sana?”

“Ya” jawabku lagi.

Setelah bertanya, dia hanya memperlihatkan senyum anehnya, lalu dia mulai berbicara lagi.

“Apabila aku pergi jauh, pandanglah matahari senja yang tenggelam oleh laut yang bergelombang. Berjanjilah padaku, jangan pernah lupakan aku. Aku ingin tetap terikat dalam ikatan persahabatan yang erat ini.”

Aku penasaran, mengapa dia berbicara seperti itu.

“ Sebenarnya ada apa sih, Mar?”

“ Oh, nggak ada apa-apa, kok!” jawabnya dingin.

Teriakan adikku dari tepi jalan memotong pembicaraan kami.

“Kak, Mak suruh kakak pulang!”

Akupun berpamitan kepada umar. Dengan tenaga yang masih tersisa, aku berlari mendekati adikku.

“Mar, nanti sore kita ketemuan disini lagi, ya! Jangan lupa, ya!” sorakku kepada umar.

Akupun melambaikan tangan kepadanya, tanpa mengetahui kalau itu adalah lambaian terakhir untuknya.

Sesampainya di depan rumah, aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum, Mak! Aal sudah pulang. Ada apa mak memanggil Aal?”

Mak menjawab, “tolong belikan minyak tanah ya. Mak mau masak makanan kesukaanmu, gulai nangka.”

Aku senang sekali. Aku segera lekas pergi mencari minyak tanah.

Tapi ketika aku berjalan ke pintu, aku melihat banyak orang yang berlarian.

Aku bertanya kepada seorang bapak-bapak yang lewat di depanku. “ Ada apa, pak?”

“Itu, nak.ada gelombang besar di pantai barat. Ayo cepat lari, nanti kamu ikut-ikutan hanyut!”

Lalu bapak-bapak itu pergi begitu saja. Dan tidak lama kemudian, aku sudah melihat aliran yang deras bagaikan air bah yang menghanyutkan segalanya.

Aku berlarian tak tentu arah bersama keluargaku. Ayahku menuntun kami semua naik ke atas atap yang tak terendam. Pertama-tama aku dan adik yang naik duluan setelah itu ibu dan ayahku. Namun ketika ayahku hendak naik, beliau tak sengaja terpeleset. Ayah melepaskan pegangannya, beliau pun terhanyut.

Namun, itu semua belum berakhir. Adikku yang berdiri di pinggir ikut terpeleset dan jatuh. Walau bagaimanapun juga, dia pun ikut hanyut. Adik berteriak minta tolong. Mak menangis dan memanggil-manggil nama adik. Aku memeluk Mak. Mak berusaha melepaskan pelukanku.

“Mak, sabar. Kalau Mak mengejar adik, nanti Mak ikutan hanyut. Kalau Mak hanyut, nanti siapa yang akan merawat Aal?” ucapku pada Mak.

Mak berhenti meronta-ronta. Mak jatuh tersimpu dan bersujud sambil menangis.

***

Air sudah berhenti mengalir. Mak mengajakku mencari adik dan ayah. Mak mencari diantara puing-puing bangunan yang sudah hancur. Mak menemukan adik sudah tewas ditimpa balok kayu besar, sedangkan ayah tidak ditemukan. Mak memeluk adik sambil menangis terisak-isak. Aku juga ikut menangis. Separuh dari keluargaku meninggal. Setelah ini, aku tidak tahu siapa yang akan mencari nafkah lagi, karena kami tidak tahu dimana ayah bersinggah.

Sementara Mak masih menangis, aku mencari Umar. Aku yakin pasti dia terhanyut sangat jauh, karena dia masih di pantai. Aku mencari Umar kesana kemari, tapi tidak ketemu. Aku sangat sedih, karena mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Sekarang matahari senja telah menyinari pasir putih pantai. Aku hanya bisa menangis sambil menatap langit, seolah-olah wajah Umar yang tersenyum ada dimerahnya matahari. Aku tahu engkau selalu ada disana, Umar. Dan aku tahu, engkau akan selalu berada disampingku. Persahabatan kita tidak akan putus, sampai berakhirnya waktu.

cerpen ini penulis sadur dari arsip Tabloid AKSI MAN 2 Model Pekanbaru yang tidak diterbitkan.